Banjarmasin, 29 Juli 2026 – Dalam upaya memperkuat budaya kampus yang aman, nyaman, inklusif, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, Institut Kesehatan Suaka Insan Banjarmasin menyelenggarakan Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT) pada Rabu (29/07/2026) mulai pukul 08.00 WITA hingga selesai bertempat di Aula Maria Goretti Institut Kesehatan Suaka Insan Banjarmasin. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah nyata institusi dalam mendukung implementasi Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi serta memperkuat komitmen seluruh sivitas akademika dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, bermartabat, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor Institut Kesehatan Suaka Insan Banjarmasin, Sr. Imelda Ingir, SPC., BSN., MHA., Ph.D., jajaran pimpinan institusi, dosen, tenaga kependidikan, tenaga nonkependidikan, serta mahasiswa. Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan, menunjukkan kepedulian bersama terhadap pentingnya membangun budaya kampus yang saling menghormati, melindungi, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Pada kesempatan tersebut, Rektor Institut Kesehatan Suaka Insan Banjarmasin, Sr. Imelda Ingir, SPC., BSN., MHA., Ph.D., menyampaikan sambutan sekaligus membuka kegiatan secara resmi. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa perguruan tinggi bukan hanya menjadi tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk membentuk karakter, integritas, serta nilai-nilai kehidupan yang menghormati martabat setiap manusia.
Beliau menekankan bahwa seluruh sivitas akademika memiliki tanggung jawab yang sama dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, inklusif, serta bebas dari segala bentuk kekerasan. Menurut beliau, budaya saling menghargai tidak akan terwujud apabila hanya menjadi tanggung jawab pimpinan institusi ataupun Satgas PPKPT, melainkan harus menjadi komitmen bersama seluruh warga kampus.
Dalam sambutannya, beliau juga mengangkat nilai-nilai Paulinian yang menjadi dasar pelayanan di Institut Kesehatan Suaka Insan Banjarmasin. Nilai kasih, kepedulian, pelayanan, penghormatan terhadap martabat manusia, kerendahan hati, serta keberanian dalam memperjuangkan kebenaran diharapkan menjadi pedoman dalam setiap interaksi di lingkungan akademik. Nilai-nilai tersebut tidak hanya diwujudkan dalam proses pembelajaran, tetapi juga dalam membangun hubungan yang sehat, menghargai keberagaman, serta mencegah terjadinya segala bentuk kekerasan maupun diskriminasi.
“Mewujudkan kampus yang aman merupakan tanggung jawab kita bersama. Melalui nilai-nilai Paulinian, mari kita membangun budaya yang saling menghormati, saling melindungi, serta berani mengambil bagian dalam mencegah dan menangani segala bentuk kekerasan di lingkungan kampus,” pesan Sr. Imelda Ingir kepada seluruh peserta.
Di akhir sambutannya, beliau secara resmi membuka Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT) sebagai bentuk komitmen institusi dalam mendukung terciptanya lingkungan pendidikan tinggi yang berkualitas, aman, dan bermartabat.
Sebagai bentuk nyata komitmen tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan Pembacaan Naskah Deklarasi Anti Kekerasan yang dipimpin oleh Sr. Imelda Ingir, SPC., BSN., MHA., Ph.D. didampingi oleh Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT), Fransiska Dwi Hapsari, S.Kep., Ners., M.K.M. Pembacaan deklarasi berlangsung dengan penuh khidmat dan diikuti oleh seluruh peserta sebagai simbol tekad bersama untuk menolak segala bentuk kekerasan di lingkungan kampus. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen secara simbolis oleh perwakilan dosen, tenaga kependidikan, tenaga nonkependidikan, serta dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen oleh seluruh sivitas akademika sebagai bentuk dukungan terhadap terwujudnya budaya kampus yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.
Memasuki acara inti, peserta mengikuti sesi penyampaian materi yang menghadirkan dua narasumber, yaitu Selly Kresna Dewi, S.Kep., Ners., M.Kep., Sp.Kep.Mat. dan Fransiska Dwi Hapsari, S.Kep., Ners., M.K.M.
Pada sesi pertama, Selly Kresna Dewi menyampaikan materi mengenai pentingnya membangun kampus yang humanis, aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari kekerasan berdasarkan Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024. Beliau mengawali materi dengan menjelaskan definisi kekerasan di lingkungan perguruan tinggi, kemudian menguraikan konsep relasi kuasa dan gender yang dapat menjadi faktor penyebab munculnya tindakan kekerasan apabila tidak dipahami dengan baik.
Selanjutnya, beliau memaparkan berbagai bentuk kekerasan yang dapat terjadi di lingkungan perguruan tinggi, mulai dari kekerasan fisik, kekerasan psikis, perundungan (bullying), kekerasan seksual, diskriminasi, intoleransi, hingga kebijakan yang berpotensi menimbulkan kekerasan. Tidak hanya menjelaskan bentuk-bentuk kekerasan, beliau juga menguraikan dampak yang ditimbulkan terhadap korban, baik dari sisi fisik, psikologis, sosial, maupun akademik. Melalui materi tersebut, peserta diajak memahami bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk tindakan fisik, tetapi juga dapat berupa perilaku maupun kebijakan yang merendahkan martabat seseorang. Beliau mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjadi agen perubahan dengan membangun komunikasi yang sehat, saling menghargai perbedaan, serta berani mencegah maupun melaporkan apabila menemukan adanya tindakan kekerasan di lingkungan kampus.
Pada sesi berikutnya, Fransiska Dwi Hapsari selaku Ketua Satgas PPKPT Institut Kesehatan Suaka Insan Banjarmasin menyampaikan materi mengenai mekanisme pelaporan apabila terjadi tindak kekerasan di lingkungan kampus. Beliau menjelaskan bahwa setiap warga kampus memiliki hak untuk memperoleh perlindungan serta melaporkan dugaan tindak kekerasan tanpa rasa takut karena identitas pelapor, korban, maupun saksi dijamin kerahasiaannya oleh Satgas PPKPT.
Beliau memaparkan secara rinci alur penanganan laporan, mulai dari penerimaan laporan oleh Satgas PPKPT, proses verifikasi dan asesmen terhadap korban, pendampingan psikologis, kesehatan, sosial, hukum, maupun akademik sesuai kebutuhan korban, hingga proses pemeriksaan dan penyusunan rekomendasi penanganan. Selain itu, beliau juga menjelaskan tugas dan fungsi Satgas PPKPT dalam melakukan upaya pencegahan, menerima serta menindaklanjuti laporan, berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, dan memastikan setiap proses berjalan secara profesional, adil, independen, serta mengutamakan keselamatan korban.
Tidak hanya itu, peserta juga diberikan informasi mengenai berbagai media pelaporan yang dapat digunakan apabila terjadi dugaan tindak kekerasan, baik melalui anggota Satgas PPKPT maupun kanal pelaporan resmi yang telah disediakan oleh institusi. Beliau menegaskan bahwa setiap laporan akan ditindaklanjuti sesuai prosedur yang berlaku dengan tetap menjunjung tinggi prinsip kerahasiaan, perlindungan korban, keadilan, serta penghormatan terhadap hak-hak korban, saksi, maupun terlapor.
Suasana sosialisasi berlangsung sangat interaktif. Peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi yang disampaikan oleh narasumber. Hal tersebut terlihat dari banyaknya pertanyaan, tanggapan, dan diskusi mengenai implementasi kebijakan PPKPT, langkah-langkah pencegahan kekerasan, serta peran aktif seluruh sivitas akademika dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan inklusif.
Melalui kegiatan ini, Institut Kesehatan Suaka Insan Banjarmasin berharap seluruh sivitas akademika tidak hanya memahami regulasi mengenai Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan semangat nilai-nilai Paulinian, seluruh warga kampus diharapkan menjadi pribadi yang mampu menghargai sesama, berani melindungi mereka yang membutuhkan, serta bersama-sama mewujudkan lingkungan akademik yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.







